Sabtu, 04 Mei 2013

bukti Al-quran bukan lah buatan Nabi Muhammad SAW

Al-quran bukan lah buatn Nabi Muhammad SAW karena:
1. Beliau merupakan orang arab, berarti masuk dalam lingkup tantangan Al-quran.
dan jika kamu tetap dalam keraguan tentang Al-qur'an yang kami wahyukan kepada hamba kami (muhammad), maka datangkanlah satu surat (saja) yang semisalnya, dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Q.S Al Baqoroh:23)
2. Beliau memiliki hadist, yang gaya bahasa dan sastranya jauh berbeda dari gaya dan bahasa Al quran. padahal ucapan seseoran, sekalipun dia berusaha membuat berbagai gaya bahasa, sesungguhanya ucapan itu memiliki kesamaan gaya bahasa yang satu dengan yang lain, karena ucapan itu adalah bagian dari dirinya. di samping itu hadis bisa di palsukan dengan adanya hadis palsu (maudlu) sedan Al quran tidak ada. seluruh kandungan Alquran mutawatir lafdzi dan maknawi.
3. Adanya kata Qul dan semisalnya, seperti Nabbi, Andzir, dan Basyir.
4. Adanya teguran Allah kepada beliau
5. Adanya penggaris bawahan Allah atas kisah-kisah yang diceritakan kepada rasulullah
6. Adanya bahasa dialog sebagai pemberian anugerah Allah kepada rasulullah berkenaan dengan kisah-kisah terdahulu
7. Adanya kisah berita bohong (haditsul ifki). (Q.S An nur:11)
8. Nabi menyerahkan arti dari huruf-huruf di awal surat (Al Huruf Al Muqottho'ah) kepada Allah
9. dan lain sebagainya


Sumber: kitab min 'aina nabda?




Sabtu, 20 April 2013

PAUD pada zaman masa dulu dan sekarang

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
PAUD masa dulu sangat jauh berbeda dengan PAUD masa sekarang. coba kita perhatikan pada zaman dulu anak-anak lebih condong bermain di tk mereka, namun pada zaman sekarang anak-anak tk sudah di ajari banyak hal.seperti bahasa inggris,mandarin dll. menurut saya secara pribadi PAUD zaman sekarang kurang efektif dikarenakan anak-anak yang seharusnya bermain malah di suruh belajar. dan ini bisa menurunkan minat mereka belajar pada saat SD nanti.karena mereka mengerjakan sesuatu padahal mereka belum saatnya melakukan hal tersebut. memang anak-anak sekarang lebih pintar menggungakan bahasa asing, akan tetapi itu bisa menjadi bumerang yang akan menghancurkan anak tersebut. bayangkan anak-anak yang bisa berbicara bahasa asing akan bingung menggunakan bahasa mana yang akan mereka gunakan pada orang sekitar mereka dan ini akan meningkatkan stres pada anak-anak. kita harus meletakkan sesuatu pada tempat nya, anak yang seharusnya bermain maka kita harus membiarkan mereka bermain jangan memaksa mereka untuk belajar. 

Selasa, 16 April 2013

mereka dengan TUHANnya



(Watu Wungkuk, 7 Maret 2004)

mereka…
kulihat mereka…
mereka menangis dalam shalatnya…
mereka menangis dalam do’anya…
mereka menangis dalam dzikirnya..

mereka tahu siapa dirinya
ketika mereka tahu siapa Tuhannya
ketika mereka tunduk menjatuhkan kening mereka
serata lantai dengan telapak kakinya
sujud tubuhnya
sujud hatinya
sujud jiwanya
sujud ke-aku-annya
mereka tahu kerendahannya
mereka tahu kekecilannya
mereka tahu kekerdilannya
mereka tahu kehinaanya
mereka tahu ketiadaan dirinnya

mereka menyebut-nyebut nama Tuhannya
Tuhannya berkata..
Aku yang punya nama
Aku datang

Ketika Tuhannya hadir
Dengan kebesaranNya

betapa takutnya mereka
Ancaman Tuhannya
Siksa Tuhannya
Azab Tuhannya
Neraka Tuhannya

betapa gembiranya mereka
ni’mat Tuhannya
karunia Tuhannya
rahmat Tuhannya
Syurga Tuhannya

betapa cintanya mereka
ketika mereka tahu
Tuhannya mengasihi mereka
Tuhannya menyayangi mereka
Tuhannya mencintai mereka

Maka
Ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai
Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu
Dan masuklah ke dalam syurgaKu


sebutir debu..

Jumat, 08 Maret 2013

Jiwa Pendekar

krisis yang mendera bangsa ini, kiranya telah melalap ribuan kekayaan nilai-nilai luhur bangsa, termasuk didalamnya sifat-sifat mulia yang dulu menjadi sanjungan atau pethingan mayoroitas anggota masyarakat yang mengaku bangsa Indonesia.
Krisis Jiwa Pendekar...
jiwa pendekar, yaitu jiwa ksatria yang berani menepati janji meski pahit akan dirasa, berani mengakui kesalahan meski harus disiksa, berani mati jika membela kebenaran, berani mengakui keunggulan lawan, berani mengakui kekalahan, tidak sombong jika menang, tidak putus asa jika gagal dan lain-lain.
jiwa rakus pengecut cemen munafik dan ribuan jiwa2 tak terpuji lain telah merasuk dalam sanubari bangsa ini, dan krisis itu terus mendera, degradasi moral tak terbantah lagi. hanya segelintir kelompok saja yang masih bertahan mempertahankan nila-nilai itu. dan tragisnya orang ata kelompok seperti mereka justru tidak populer dalam masyarakat, bahkan lebih tragis lagi mereka banyak yang dituding kolot, pembangkang teroris, orang malah dan sebutan-sebutan lain yang lebih keji.
namu n jiwa pendekar tetaplah jiwa pendekar, mereka yang memiliki jiwa seperti itu tentu akan terus menampilkan dan mengutamakan jiwa-jiwa itu dalam kehidupannya.
yach... sekali lagi jiwa pendekar... jikalau pemerintah indonesia menerapkan dan menanamkan jiwa itu kepada generasinya tentu kehormatan bangsa ini akan terus terjaga hingga akhir masa....
bismillah.... semoga Alloh berkenan menjadikan bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang memilki kehormatan sebagaimana layaknya seorang pendekar sekalipun dalam keadaan seperti apapun.

sumber: